Kamis, 03 Agustus 2017

Merindu

malam, 19:30.

selamat malam teruntuk kamu yang aku rindukan saat ini.sedang apakah kau sekarang? apakah sama halnya denganku yaitu merindukanmu?
lucu, ketika aku berfikir bahwa kamu akan tetap sehangat malam itu.nyatanya sekarang kau dingin bagaikan udara malam ini.
untuk menyapamu saja akupun lupa bagaimana caranya. HAHA waktu terlalu kejam padaku saat ini.
"cinta harus sejalan dengan logika", ya banyak sekali pepatah mengatakan begitu.
namun semenjak mengenalmu pada sore kala itu, logikaku rasanya mati dan hanya perasaanku saja yg bermain.
aku masih mengingat rasanya diterbangkan olehmu kala itu. buaian kata-kata manis bermunculan dilayar hpku, rasanya seperti baru jatuh cinta.
ya, kau memang berhasil membuatku melupakan semua luka yang dibuat olehnya.
kala itu kufikir niatmu akan serius denganku.
namun nyatanya? kau lebih buruk dari yang kubayangkan sebelumnya.
walaupun sampai sekarang komunikasi kita tidak pernah putus, namun anehnya aku merindukan masa-masa itu.
masa-masa dimana kita seakan dekat, bahkan terlalu dekat bagaikan nadi dengan pemiliknya.
masa-masa dimana kau selalu berkeluh kesah denganku soal apapun, dan akupun melakukan hal yg sama juga.
masa-masa dimana teman-temanmu selalu mengolok kita dengan ledekan itu.

yaRabb.. aku rindu:')

kalaupun memang hanya berteman saja denganmu adalah suatu hal yang terbaik, mengapa tuhan memberikan rasa ini padaku?



-teruntuk sebuah nama yang selalu menjadi topik khusus antara aku denganNya-

Sabtu, 16 April 2016

"Meeting you was fate, becoming your friend was a choice, but falling in love with you was beyond my control."




Senin, 11 Mei 2015

Tahu Diri

Seharusnya aku sudah tahu,bahwa dia memang sudah berubah. Hanya saja,aku sulit merelakan. Sulit memberi tahu diri sendiri bahwa semua orang bisa berubah,dan aku harus menerimanya. Namun,yang menyakitkan ternyata bukan kenyataan bahwa aku harus melepaskan dia,tapi mendengar dari mulutnya sendiri bahwa sebenarnya kami berdua bukan apa-apa. Dia sudah lama berhenti mencintai aku,sedangkan aku menyayanginya seperti tidak akan berakhir.

Jumat, 01 Mei 2015

Ini Aku

Aku punya satu kepala, ribuan kamu di dalamnya.

Aku punya satu hati, menunggu untuk kau diami.

Aku punya dua telinga, hanya suaramu saja yang kucerna.

Aku punya mata, hanya terlukis bayanganmu di dalamnya.

Mulutku hanya satu, dia hanya melengkungkan senyum kepadamu.

Aku punya bahu, silahkan bersandar disitu. Semaumu.

Aku punya dua lengan, kulingkarkan dalam peluk hingga akhir jaman.

Jemari tanganku ada sepuluh. 

Sayang mereka mati rasa, dan baru hidup jika digenggammu.

Kau lihat jari manisku?

Ia menunggu lingkar janji, sehidup semati.

Aku punya dua lutut, mereka hanya bertekuk di hadapanmu dengan satu senyum maut.

Aku punya dua kaki. Semuanya menujumu. 
Kamu mau diam? Atau lari mendekatiku?

Milyaran sel darah merahku, semua berdesir dan meluap-luap.

Melukis pipiku, menjadi merah jambu. Di dekatmu.

Milyaran sel di otakku boleh kau ambil Tuhan, tapi tolong sisakan satu. Ingatan tentang kamu.

Epidermis kulitku, sekujurnya, menunggu terlapis hangat pelukmu.

Tuhan hanya punya satu surga, kamu pasti salah satu contohnya.

Nerakaku cuma satu, jutaan senti berjarak darimu.

Doaku cuma satu, kau berbaghagia di setiap langkahmu, alam iringanku.

Jutaan anak rambutku berseru rindu.

Usap telapak tangan lembutmu.

Pelukanku hangat, entah berapa suhunya.

Kalikan jutaan dekap untukmu.

Kini sudah melelehkah kau dekatku?
Kau pasti berkelenjar air mata. Di dekatku, takkan kubiarkan jatuh walau setetes saja.
"Karena kau ganjil, dan aku beserta jiwaku akan berusaha menggenapinya."