Jumat, 01 Mei 2015

Ini Aku

Aku punya satu kepala, ribuan kamu di dalamnya.

Aku punya satu hati, menunggu untuk kau diami.

Aku punya dua telinga, hanya suaramu saja yang kucerna.

Aku punya mata, hanya terlukis bayanganmu di dalamnya.

Mulutku hanya satu, dia hanya melengkungkan senyum kepadamu.

Aku punya bahu, silahkan bersandar disitu. Semaumu.

Aku punya dua lengan, kulingkarkan dalam peluk hingga akhir jaman.

Jemari tanganku ada sepuluh. 

Sayang mereka mati rasa, dan baru hidup jika digenggammu.

Kau lihat jari manisku?

Ia menunggu lingkar janji, sehidup semati.

Aku punya dua lutut, mereka hanya bertekuk di hadapanmu dengan satu senyum maut.

Aku punya dua kaki. Semuanya menujumu. 
Kamu mau diam? Atau lari mendekatiku?

Milyaran sel darah merahku, semua berdesir dan meluap-luap.

Melukis pipiku, menjadi merah jambu. Di dekatmu.

Milyaran sel di otakku boleh kau ambil Tuhan, tapi tolong sisakan satu. Ingatan tentang kamu.

Epidermis kulitku, sekujurnya, menunggu terlapis hangat pelukmu.

Tuhan hanya punya satu surga, kamu pasti salah satu contohnya.

Nerakaku cuma satu, jutaan senti berjarak darimu.

Doaku cuma satu, kau berbaghagia di setiap langkahmu, alam iringanku.

Jutaan anak rambutku berseru rindu.

Usap telapak tangan lembutmu.

Pelukanku hangat, entah berapa suhunya.

Kalikan jutaan dekap untukmu.

Kini sudah melelehkah kau dekatku?
Kau pasti berkelenjar air mata. Di dekatku, takkan kubiarkan jatuh walau setetes saja.
"Karena kau ganjil, dan aku beserta jiwaku akan berusaha menggenapinya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar